Rabu, 03 April 2013

Pram....

Pram....

Pramoedya Ananta Toer.......
salah satu penulis Indonesia yang bertangan dingin, dari tangannya lahir beberapa buku yang fenomenal. Salah satu bukunya (dan baru satu itu sih) yang pernah aku  baca "BUKAN PASAR MALAM", buku yang menurut aku bagus secara jalan cerita dan bahasa yang digunakan cukup sederhana. Ini sedikit review dari buku itu.


Seorang anak sulung yang berjuang demi tujuh adiknya dan orang tuanya di Blora Jawa Tengah. Pram muda sangat gigih memperjuangkan kehidupannya ditengah situasi peperangan saat itu. Dia merantau ke Jakarta demi keluarganya sesampainya di Jakarta dia "dicintai" Belanda, sampai-sampai ia di tahan.


Di tengah perjuangannya itu, dia menerima surat yang mengabarkan adiknya jatuh sakit. Pram muda sangat geram menerima kabar itu, dia melampiaskan kegeramannya dengan surat balasan yang isinya "Ayah, kenapa kau biarkan adik sakit?".
Pram tidak menerima kabar lagi setelah beberapa bulan. Hingga akhirnya datang juga surat dari kampung halamannya "Pram, ayahmu sakit keras, pulanglah!" Pram berkeliling Jakarta mencari "cara" agar bisa pulang ke Blora, tak sepeser uang pun ada di dompetnya saat itu.


Di kampung halamannya, Pram melihat sang ayah tergolek di ranjang rumah sakit. Kaki sang ayah yang dulu kuat mengayuh sepeda untuk pergi mengajar di sekolah, sekarang hanya tinggal tulang berbalut kulit.

Sinar mata sang ayah yang dulu tajam penuh kharisma, kini redup,
TBC telah menggerogoti kekuatannya. 


Satu bulan Pram berjuang  mencari jalan untuk kesembuhan ayahnya, hingga akhirnya kehendakNYA yang berkata, Sang ayah berpulang di pagi itu. Para pelayat datang tak berhenti untuk memberikan penghormatan terakhir untuk sang ayah, sang pejuang untuk rakyat miskin.
Pram yang tangguh pun tumbang ketika dihadapkan pada kenyataan itu. 




"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
-Pramoedya Ananta Toer-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar